Minggu, 05 Juni 2016

No Tittle

 
Bagaimana bisa seorang penulis yang sedang jatuh cinta pada hujan tiba - tiba ia membenci hujan hanya karena hujan terlambat datang sore itu. Mungkin hanya persoalan terlambat itulah yan membuatnya menjadi pembenci secara tiba - tiba, bukankah setiap manusia itu memiliki sebuah rasa benci yang entah pada sapa ia akan mengutarakannya.
Entahlah. . . .
Terkadanag akaupun merasa menjadi seorang perempuan di umur 20 tahun yang tak segera mendewasa, mungkin memang benar umurku 20 tahun, tapi tidak dengan perilakuku yang terlihat kekanak - kanakan.
Aku ingin hidup normal, layaknya perempuan - perempuan yang lainnya. Yang bisa merasakan kebahagiaan dengan sosok lelaki yang tulus menemni kesehariannya,, aku ingin dicintai seperti perempuan normal lainnya. Tapi kenapa kau sosok lelaki yang tak dapat terddefenisikan olehku, datang lalu pergi begitu saja meninggalkan genangan air mata dan luka di hati.
Hey. . Kamu, bisakah kau sedikit menoleh kebelakang dan lihatlah aku yang tak sanggup lagi menahan langkah kakimu yang kini semakin jauh  dan jauh, hingga bayangan pundakmupun tak dapat aku sentuh. Tanganmu tak lagi bisa ku genggam, dan kini aku bagaikan ranting kering yang merindukan hujan, bagaikan seorang musafir yang terlantar di padang pasir. Ah, apalah dayaku kini, yang mencintai namun kau tinggalkan aku sendiri.
Kau memilih pergi bersama perempuan yang baru saja kau kenal dan ia yang mampu membuatmu lebih merasa nyaman, dibandingkan saat kau bersamaku.
Duhai kekasihku, sekali lagi ku pintah kembalilah sebelum ia benar - benar akan membuatmu terluka. Ku sediakan ruang kosong untukmu di hatiku, ku sediakan pintu maaf untukmu jika kau berubah pikiran untuk kembali padaku.


#Chapucino

Surat untuk Ayah

 
To : Ayah
              Ayah, sudah lama aku ingin mengatakan ini padamu. Maafkan aku yang tak bisa menjadi sesuatu yang kau harapkan selama ini, maafkan aku jika pernah mengecewakanmu. Ayah aku tahu sosok seoarang Abdi Negara itu selalu saja terbayang dalam benakmu, tapi ayah setiap tahunnya aku sudah berusaha ikut dan mencoba hal itu tapi aku selalu jatuh dan hampir berkali - kali jatuh disetiap tes  itu.
Semenjak aku jtuh berkali - kali itulah ayah, aku memutuskan untuk tidak lagi ikut tes, dan memilih fokus pada bidang yang sekarang aku geluti, aku sadar ayah  bahwa aku saat ini sedang berstatus mahasiswi di salah satu Universitas di Ternate Maluku Utara. kesadaranku mulai ku rasakan saat semsester V, disemster itulah Ayah aku sudah memutuskan suatu keputusan yang mungkin melukai hatimu. Tapi ketahuilah Ayah, segala keputusan yang telah aku pilih. Akan aku jalani dengan tulus dan dengan segala konsekuensinya.
Ayah, dalam hal memutuskan sesuau itu memang tidak mudah yah. Tapi ini sudah menjadi pilihan putrimu yang sangat nakal ini, mungkin aku adalah purimu yang paling keras kepala di bandingkan dengan kedua putrimu yang lainnya.
Ayah tahu disaat aku pertama memasuki bangku perkuliahan. Ada sedikit yang menganjal hatiku yah, ia.. itu sesuatu hal dalam mengambil jurusan. Saat itu aku juga bingung yah, mau mengambil jurusan apa? sedangkan aku awalnya tertarik dengan dunia medis, namun karena keterbatasan ekonomi keluarga kita, aku memilih untuk kuliah disini saja, yang penting aku merasakan bangku perkuliahan. Dan pernakah ayah tahu, saat aku masuk mendaftar di salah satu perguruan tinggi di Ternate, aku bimbang karena saat itu aku juga tertarik dengan Ilmu Hukum, tapi disisi lain aku lebih tertarik dengan Sastra, namun saat itu ada beberapa pilihan jurusan yang sempat aku cantumkan didalam lembaran pendaftaranku.
 Pada saat itulah yah, aku mengunakan perasaanku yang pertamakalinya dalam hal memutuskan suatu pilihan, saat itu juga  aku mulai merasa bahwa dalam hal memutuskan pilihan cukup dengan ingat Allah SWT, orang tua dan tetunya kata hatiku sendiri.
Dan pada akhirnya aku memutuskan untuk mengambil jurusan sastra, saat ini aku mulai merasakan bahwa sulitnya memahmi ilmu sastra, tapi yah aku tidak akan putus asa, karena musuh  orang - orang yang suskses adalah putus asa begitupun halnya dengan rasa malas.
Ayah, sejatinya aku rindu,, aku rindu membelai wajahmu yang keriput itu, aku rindu mendengarkan celotehmu saat ini.

                                                                             Maaf Ayah. . .