Rabu, 15 Februari 2017

AKU BERANJAK PERGI


Hasil gambar untuk menyepi

Hari ini hanya  sekedar menyapamu “Hi” saja aku canggung. Lidahku kaku seakan beku dengan dinginnya  hujan yang jatuh, kini aku hanya bisa memandangimu dari jauh sebab kau yang kukenal tak seperti dulu lagi. Aku tahu sebelum kita benar benar menautkan hati, kamu pernah berkata.

 “Semua manusia itu bertopeng dik, dan kita juga tidak tahu siapa yang bertopeng di antara kita”

Semestingya kalimat itu ku dengarkan lamat lamat. Tapi apalah dulu, aku sempat tak peduli terhadap kamu sebab aku hanya ingin menjaga perasaan sahabatku. Namun nyatanya lambat laun perasaan ini tumbuh juga, sebab kamu yang tak pernah berhenti merayu.

Aku tahu dua tahun yang lalu, aku sempat acuh tak acuh padamu. Meskipun berkali kali kamu datang merayu, kamu menyapaku tanpa henti di saat bertemu. Hingga tak mampu, kamu juga melayangkan pesan melalu SMS dan berkata “Aku adalah lelaki yang menyukai senyummu”.

Bagiku kata kata itu tidak penting untuk orang yang tak pernah peka padamu dulu, acuhku padamu bukan berarti aku juga tak pernah memiliki rasa yang sama padamu. Hanya saja aku ingin begini, menikmati hubungan kita dengan rasa nyaman bukan ikatan yang pada akhirnya menyesakkan. Meskipun menyimpan rasa suka diam - diam itu lebih menyakitkan sebab dia yang dulu pernah menjadi kekasihmu kini kembali padamu, lantas apalah dayaku untuk menahan kamu.

Apakah kita ini bukan dua orang yang sedang jatuh cinta? Lalu, kenapa tiba – tiba ada dia, dia yang dulu sempat melukaimu dan membuatmu menjadi orang asing di hatinya kini datang dan membawa kamu pergi

Jangan pernah berpaling dan membuat kita menjadi dua orang yang asing, aku tahu ada banyak orang di permukaan bumi ini bisa mencuri kamu atau pun aku. Tapi aku hanya inggin ada kamu dan aku saja yang menjadi kita yang menjalani hubungan ini tanpa ada dia. Tapi apalah daya, hujan membawamu pergi bersama kenangan yang pernah kita miliki dulu.

Pada akhirnya apa yang aku perjuangkan harus aku relakan dengan  kata bahwa Akad nikah akan segera mempersatukan kamu dan dia. Pada akhirnya semua kisah ini hanya akan menjadi barangan  kenangan yang akan aku bawa pergi menjauh dari kamu dan dia. Pada titik dan koma aku berjanji tidak akan mengenalmu lagi, selamat mengucap janji setia dengan dia yang kamu cinta.


Minggu, 05 Juni 2016

No Tittle

 
Bagaimana bisa seorang penulis yang sedang jatuh cinta pada hujan tiba - tiba ia membenci hujan hanya karena hujan terlambat datang sore itu. Mungkin hanya persoalan terlambat itulah yan membuatnya menjadi pembenci secara tiba - tiba, bukankah setiap manusia itu memiliki sebuah rasa benci yang entah pada sapa ia akan mengutarakannya.
Entahlah. . . .
Terkadanag akaupun merasa menjadi seorang perempuan di umur 20 tahun yang tak segera mendewasa, mungkin memang benar umurku 20 tahun, tapi tidak dengan perilakuku yang terlihat kekanak - kanakan.
Aku ingin hidup normal, layaknya perempuan - perempuan yang lainnya. Yang bisa merasakan kebahagiaan dengan sosok lelaki yang tulus menemni kesehariannya,, aku ingin dicintai seperti perempuan normal lainnya. Tapi kenapa kau sosok lelaki yang tak dapat terddefenisikan olehku, datang lalu pergi begitu saja meninggalkan genangan air mata dan luka di hati.
Hey. . Kamu, bisakah kau sedikit menoleh kebelakang dan lihatlah aku yang tak sanggup lagi menahan langkah kakimu yang kini semakin jauh  dan jauh, hingga bayangan pundakmupun tak dapat aku sentuh. Tanganmu tak lagi bisa ku genggam, dan kini aku bagaikan ranting kering yang merindukan hujan, bagaikan seorang musafir yang terlantar di padang pasir. Ah, apalah dayaku kini, yang mencintai namun kau tinggalkan aku sendiri.
Kau memilih pergi bersama perempuan yang baru saja kau kenal dan ia yang mampu membuatmu lebih merasa nyaman, dibandingkan saat kau bersamaku.
Duhai kekasihku, sekali lagi ku pintah kembalilah sebelum ia benar - benar akan membuatmu terluka. Ku sediakan ruang kosong untukmu di hatiku, ku sediakan pintu maaf untukmu jika kau berubah pikiran untuk kembali padaku.


#Chapucino

Surat untuk Ayah

 
To : Ayah
              Ayah, sudah lama aku ingin mengatakan ini padamu. Maafkan aku yang tak bisa menjadi sesuatu yang kau harapkan selama ini, maafkan aku jika pernah mengecewakanmu. Ayah aku tahu sosok seoarang Abdi Negara itu selalu saja terbayang dalam benakmu, tapi ayah setiap tahunnya aku sudah berusaha ikut dan mencoba hal itu tapi aku selalu jatuh dan hampir berkali - kali jatuh disetiap tes  itu.
Semenjak aku jtuh berkali - kali itulah ayah, aku memutuskan untuk tidak lagi ikut tes, dan memilih fokus pada bidang yang sekarang aku geluti, aku sadar ayah  bahwa aku saat ini sedang berstatus mahasiswi di salah satu Universitas di Ternate Maluku Utara. kesadaranku mulai ku rasakan saat semsester V, disemster itulah Ayah aku sudah memutuskan suatu keputusan yang mungkin melukai hatimu. Tapi ketahuilah Ayah, segala keputusan yang telah aku pilih. Akan aku jalani dengan tulus dan dengan segala konsekuensinya.
Ayah, dalam hal memutuskan sesuau itu memang tidak mudah yah. Tapi ini sudah menjadi pilihan putrimu yang sangat nakal ini, mungkin aku adalah purimu yang paling keras kepala di bandingkan dengan kedua putrimu yang lainnya.
Ayah tahu disaat aku pertama memasuki bangku perkuliahan. Ada sedikit yang menganjal hatiku yah, ia.. itu sesuatu hal dalam mengambil jurusan. Saat itu aku juga bingung yah, mau mengambil jurusan apa? sedangkan aku awalnya tertarik dengan dunia medis, namun karena keterbatasan ekonomi keluarga kita, aku memilih untuk kuliah disini saja, yang penting aku merasakan bangku perkuliahan. Dan pernakah ayah tahu, saat aku masuk mendaftar di salah satu perguruan tinggi di Ternate, aku bimbang karena saat itu aku juga tertarik dengan Ilmu Hukum, tapi disisi lain aku lebih tertarik dengan Sastra, namun saat itu ada beberapa pilihan jurusan yang sempat aku cantumkan didalam lembaran pendaftaranku.
 Pada saat itulah yah, aku mengunakan perasaanku yang pertamakalinya dalam hal memutuskan suatu pilihan, saat itu juga  aku mulai merasa bahwa dalam hal memutuskan pilihan cukup dengan ingat Allah SWT, orang tua dan tetunya kata hatiku sendiri.
Dan pada akhirnya aku memutuskan untuk mengambil jurusan sastra, saat ini aku mulai merasakan bahwa sulitnya memahmi ilmu sastra, tapi yah aku tidak akan putus asa, karena musuh  orang - orang yang suskses adalah putus asa begitupun halnya dengan rasa malas.
Ayah, sejatinya aku rindu,, aku rindu membelai wajahmu yang keriput itu, aku rindu mendengarkan celotehmu saat ini.

                                                                             Maaf Ayah. . .



 

Kamis, 22 Oktober 2015

pemandangan di belakang kadaton lama Sultan Jailolo_Halmahera Barat

Selasa, 20 Oktober 2015

www. dipenghujung senja.com



DI PENGHUJUNG SENJA
Kepakkanlah sayapmu kasih
Dan terbanglah setinggi – tingginya, untuk meraih cita – citamu
Tapi ketika senja itu memerah, bersegeralah pulang
Kan ku tunggu kau  dipenghujung senja di bawah langit merah jinga, tuk melepas rindu yang sekian lama membeku.
#Bagian 1
Sore itu daun – daun kering berjatuhan ditaman, berserakan tertiup angin. Sore itu aku pergi berjalan menyusuri taman yang berdekatan dengan pantai, tak sengaja mataku melihat seorang gadis yang sedang duduk dan memegang buku catatan berwarna biru yang sampulnya bertuliskan “i’m here and remaind here” , gadis itu duduk sambil menghadap ke timur dan tanganya mulai berlahan – lahan mengoreskan tinta penanya kedalam buku itu, entalah apa yang sedang ia tuliskan sembari aku berkata di dalam hati. Akupun semakin penasaran dengannya, dan aku berlahan – lahan berjalan mendekatinya.
Haii, , , ,  , , aku wisnu. Siapa namamu?
Namun gadis itu masih saja terdiam dan serius dengan tulisannya, dan tak lama kemudian dia merespon.
Hai juga, , , Aku bulan.
Oh nama yang begitu indah, seindah wajahmu, kata wisnu.
Bulanpun berkata, Ah. . kamu bisa saja sambil tersipu malu.
Dari setulah perkenalan mereka terjadi dan akhirnya mereka berdua menjadi sahabat karib yang sangat mengerti satu sama lain, dan mereka saling mendukung.
Suatu hari yang begitu cerah, mereka berdua membuat janji untuk bertemu di tempat yang biasanya, ia di taman tempat pertama kali mereka bertemu. Saat itu wisnu mencoba menghubungi bulan melalui nomor handponhe yang di berikan oleh bulan. Namun apa yang terjadi, Wisnu tak dapat menghubungi bulan, dan bulanpun tak terlihat di taman itu. Wisnu menunggu bulan di tempat biasanya sambil memandangi senja seraya ia mencari tahu apa yang sebenarnya dilakukan bulan ketika ia memandangi senja di sini, namun hingga senja itu memerah dan kembali keperaduannya wisnu masih saja tidak mendapatkan apa – apa dari memandang senja hingga sengga senja itu tenggelam. Namun tak lama kemudian ada seorang gadis menghampirinya, sambil berkata.
Permisi, dengan Mas Wisnu yah?
Wisnupun terbangun dari lamunannya itu, lalu berkata “ ia saya sendiri, maaf mbak siapa?
Ia saya Febri temannya Bulan, Bulan bercerita mengenai mas wisnu di saat pertama ketemu sama mas di taman ini, dan saat ini Bulan tidak bisa datang menemui mas disini.
Wisnupun mulai penasaran apa sebenarnya yang terjadi dengan Bulan, Lalu Ia bertanya kepada febri sambil memasang wajah yang cemas “ apa sebanarnya yang terjadi dengan bulan?
Febri, maaf mas saya tidak bisa memberi tahu mas saat ini, mungkin suatu saat nanti mas akan tahu yang sebenarnya. Permisi. .
Tapi tunggu mbak, kata wisnu. Namun febri tidak menghiraukan pangilan wisnu itu.
Febri berjalan lurus ke mobilnya, tanpa  menghiraukan pangilan wisnu yang penasaran dengan keadaan Bulan. Wisnupun kembali duduk di kursi itu sambil meruduk dan penuh dengan pertanyaan yang tak kunjung ia temukan jawabannya.
Senjapun kembali keperaduannya, kini hanya lampu – lampu taman yang menerangi tempat itu, dan tak seorangpun berada di taman itu selain Wisnu yang terpaku membisu tanpa suara Hanya deburan ombaklah yang senantiasa menyapa melalui kebisuan, ombak itu berdebur menyanyikan lagu kerinduan melalui kebisuan.
Namun tak lama kemudian, Hadphone Wisnu berdering secepat mungkin ia mengambil dari saku celananya, dan ternyata “Mama”. Langsung saja ia mengangkatnya dan mencoba menenangkan diri, dan suara mama di seberang sana “Assallammualaikum, wis kamu ada dimana? hari sudah gelap segeralah pulang. . Wisnupun menjawab “Wa’allaikumssalam wr.wb, ia ma sebentar lagi Wisnu pulang. Tiba – tiba saja pembicaraan itu terputus. Dan tak lama kemudian wisnupun beranjak pergi meninggalkan tempat itu dengan berat hati, ia kembali ke rumah dengan mengendarai motor Vario merahnya.
Dan sesampainya dirumah, seperti biasanya Ia mengucapkan salam. Dan langsung masuk ke dalam kamar, menghempaskan badannya sejenak  ketempat tidur berharap rasa lelah itu hilang. Lagi lamunannya dikacaukan dengan suara mama yang berteriak memanggilnnya.
Wisnu. . Segeralah mandi nak, lalu makan. Mama sudah menyiapkan makanan kesukaanmu di atas meja.