www.Aghlisthiny.com
Rabu, 15 Februari 2017
Minggu, 05 Juni 2016
No Tittle
Bagaimana
bisa seorang penulis yang sedang jatuh cinta pada hujan tiba - tiba ia
membenci hujan hanya karena hujan terlambat datang sore itu. Mungkin
hanya persoalan terlambat itulah yan membuatnya menjadi pembenci secara
tiba - tiba, bukankah setiap manusia itu memiliki sebuah rasa benci yang
entah pada sapa ia akan mengutarakannya.
Entahlah. . . .
Terkadanag akaupun merasa menjadi seorang perempuan di umur 20 tahun yang tak segera mendewasa, mungkin memang benar umurku 20 tahun, tapi tidak dengan perilakuku yang terlihat kekanak - kanakan.
Aku ingin hidup normal, layaknya perempuan - perempuan yang lainnya. Yang bisa merasakan kebahagiaan dengan sosok lelaki yang tulus menemni kesehariannya,, aku ingin dicintai seperti perempuan normal lainnya. Tapi kenapa kau sosok lelaki yang tak dapat terddefenisikan olehku, datang lalu pergi begitu saja meninggalkan genangan air mata dan luka di hati.
Hey. . Kamu, bisakah kau sedikit menoleh kebelakang dan lihatlah aku yang tak sanggup lagi menahan langkah kakimu yang kini semakin jauh dan jauh, hingga bayangan pundakmupun tak dapat aku sentuh. Tanganmu tak lagi bisa ku genggam, dan kini aku bagaikan ranting kering yang merindukan hujan, bagaikan seorang musafir yang terlantar di padang pasir. Ah, apalah dayaku kini, yang mencintai namun kau tinggalkan aku sendiri.
Kau memilih pergi bersama perempuan yang baru saja kau kenal dan ia yang mampu membuatmu lebih merasa nyaman, dibandingkan saat kau bersamaku.
Duhai kekasihku, sekali lagi ku pintah kembalilah sebelum ia benar - benar akan membuatmu terluka. Ku sediakan ruang kosong untukmu di hatiku, ku sediakan pintu maaf untukmu jika kau berubah pikiran untuk kembali padaku.
#Chapucino
Entahlah. . . .
Terkadanag akaupun merasa menjadi seorang perempuan di umur 20 tahun yang tak segera mendewasa, mungkin memang benar umurku 20 tahun, tapi tidak dengan perilakuku yang terlihat kekanak - kanakan.
Aku ingin hidup normal, layaknya perempuan - perempuan yang lainnya. Yang bisa merasakan kebahagiaan dengan sosok lelaki yang tulus menemni kesehariannya,, aku ingin dicintai seperti perempuan normal lainnya. Tapi kenapa kau sosok lelaki yang tak dapat terddefenisikan olehku, datang lalu pergi begitu saja meninggalkan genangan air mata dan luka di hati.
Hey. . Kamu, bisakah kau sedikit menoleh kebelakang dan lihatlah aku yang tak sanggup lagi menahan langkah kakimu yang kini semakin jauh dan jauh, hingga bayangan pundakmupun tak dapat aku sentuh. Tanganmu tak lagi bisa ku genggam, dan kini aku bagaikan ranting kering yang merindukan hujan, bagaikan seorang musafir yang terlantar di padang pasir. Ah, apalah dayaku kini, yang mencintai namun kau tinggalkan aku sendiri.
Kau memilih pergi bersama perempuan yang baru saja kau kenal dan ia yang mampu membuatmu lebih merasa nyaman, dibandingkan saat kau bersamaku.
Duhai kekasihku, sekali lagi ku pintah kembalilah sebelum ia benar - benar akan membuatmu terluka. Ku sediakan ruang kosong untukmu di hatiku, ku sediakan pintu maaf untukmu jika kau berubah pikiran untuk kembali padaku.
#Chapucino
Surat untuk Ayah
Ayah, sudah lama aku ingin mengatakan ini padamu. Maafkan aku yang tak bisa menjadi sesuatu yang kau harapkan selama ini, maafkan aku jika pernah mengecewakanmu. Ayah aku tahu sosok seoarang Abdi Negara itu selalu saja terbayang dalam benakmu, tapi ayah setiap tahunnya aku sudah berusaha ikut dan mencoba hal itu tapi aku selalu jatuh dan hampir berkali - kali jatuh disetiap tes itu.
Semenjak aku jtuh berkali - kali itulah ayah, aku memutuskan untuk tidak lagi ikut tes, dan memilih fokus pada bidang yang sekarang aku geluti, aku sadar ayah bahwa aku saat ini sedang berstatus mahasiswi di salah satu Universitas di Ternate Maluku Utara. kesadaranku mulai ku rasakan saat semsester V, disemster itulah Ayah aku sudah memutuskan suatu keputusan yang mungkin melukai hatimu. Tapi ketahuilah Ayah, segala keputusan yang telah aku pilih. Akan aku jalani dengan tulus dan dengan segala konsekuensinya.
Ayah, dalam hal memutuskan sesuau itu memang tidak mudah yah. Tapi ini sudah menjadi pilihan putrimu yang sangat nakal ini, mungkin aku adalah purimu yang paling keras kepala di bandingkan dengan kedua putrimu yang lainnya.
Ayah tahu disaat aku pertama memasuki bangku perkuliahan. Ada sedikit yang menganjal hatiku yah, ia.. itu sesuatu hal dalam mengambil jurusan. Saat itu aku juga bingung yah, mau mengambil jurusan apa? sedangkan aku awalnya tertarik dengan dunia medis, namun karena keterbatasan ekonomi keluarga kita, aku memilih untuk kuliah disini saja, yang penting aku merasakan bangku perkuliahan. Dan pernakah ayah tahu, saat aku masuk mendaftar di salah satu perguruan tinggi di Ternate, aku bimbang karena saat itu aku juga tertarik dengan Ilmu Hukum, tapi disisi lain aku lebih tertarik dengan Sastra, namun saat itu ada beberapa pilihan jurusan yang sempat aku cantumkan didalam lembaran pendaftaranku.
Pada saat itulah yah, aku mengunakan perasaanku yang pertamakalinya dalam hal memutuskan suatu pilihan, saat itu juga aku mulai merasa bahwa dalam hal memutuskan pilihan cukup dengan ingat Allah SWT, orang tua dan tetunya kata hatiku sendiri.
Dan pada akhirnya aku memutuskan untuk mengambil jurusan sastra, saat ini aku mulai merasakan bahwa sulitnya memahmi ilmu sastra, tapi yah aku tidak akan putus asa, karena musuh orang - orang yang suskses adalah putus asa begitupun halnya dengan rasa malas.
Ayah, sejatinya aku rindu,, aku rindu membelai wajahmu yang keriput itu, aku rindu mendengarkan celotehmu saat ini.
Maaf Ayah. . .
Jumat, 27 Mei 2016
Selasa, 20 Oktober 2015
www. dipenghujung senja.com
DI PENGHUJUNG SENJA
Kepakkanlah sayapmu kasih
Dan terbanglah setinggi – tingginya, untuk meraih cita – citamu
Tapi ketika senja itu memerah, bersegeralah pulang
Kan ku tunggu kau dipenghujung
senja di bawah langit merah jinga, tuk melepas rindu yang sekian lama membeku.
#Bagian 1
Sore itu daun –
daun kering berjatuhan ditaman, berserakan tertiup angin. Sore itu aku pergi
berjalan menyusuri taman yang berdekatan dengan pantai, tak sengaja mataku
melihat seorang gadis yang sedang duduk dan memegang buku catatan berwarna biru
yang sampulnya bertuliskan “i’m here and remaind here” , gadis itu duduk sambil
menghadap ke timur dan tanganya mulai berlahan – lahan mengoreskan tinta
penanya kedalam buku itu, entalah apa yang sedang ia tuliskan sembari aku berkata
di dalam hati. Akupun semakin penasaran dengannya, dan aku berlahan – lahan
berjalan mendekatinya.
Haii, , , , , , aku wisnu. Siapa namamu?
Namun gadis itu
masih saja terdiam dan serius dengan tulisannya, dan tak lama kemudian dia
merespon.
Hai juga, , , Aku
bulan.
Oh nama yang begitu
indah, seindah wajahmu, kata wisnu.
Bulanpun berkata,
Ah. . kamu bisa saja sambil tersipu malu.
Dari setulah
perkenalan mereka terjadi dan akhirnya mereka berdua menjadi sahabat karib yang
sangat mengerti satu sama lain, dan mereka saling mendukung.
Suatu hari yang
begitu cerah, mereka berdua membuat janji untuk bertemu di tempat yang
biasanya, ia di taman tempat pertama kali mereka bertemu. Saat itu wisnu
mencoba menghubungi bulan melalui nomor handponhe yang di berikan oleh bulan.
Namun apa yang terjadi, Wisnu tak dapat menghubungi bulan, dan bulanpun tak
terlihat di taman itu. Wisnu menunggu bulan di tempat biasanya sambil
memandangi senja seraya ia mencari tahu apa yang sebenarnya dilakukan bulan
ketika ia memandangi senja di sini, namun hingga senja itu memerah dan kembali
keperaduannya wisnu masih saja tidak mendapatkan apa – apa dari memandang senja
hingga sengga senja itu tenggelam. Namun tak lama kemudian ada seorang gadis
menghampirinya, sambil berkata.
Permisi, dengan Mas
Wisnu yah?
Wisnupun terbangun
dari lamunannya itu, lalu berkata “ ia saya sendiri, maaf mbak siapa?
Ia saya Febri
temannya Bulan, Bulan bercerita mengenai mas wisnu di saat pertama ketemu sama
mas di taman ini, dan saat ini Bulan tidak bisa datang menemui mas disini.
Wisnupun mulai
penasaran apa sebenarnya yang terjadi dengan Bulan, Lalu Ia bertanya kepada
febri sambil memasang wajah yang cemas “ apa sebanarnya yang terjadi dengan
bulan?
Febri, maaf mas
saya tidak bisa memberi tahu mas saat ini, mungkin suatu saat nanti mas akan
tahu yang sebenarnya. Permisi. .
Tapi tunggu mbak,
kata wisnu. Namun febri tidak menghiraukan pangilan wisnu itu.
Febri berjalan
lurus ke mobilnya, tanpa menghiraukan
pangilan wisnu yang penasaran dengan keadaan Bulan. Wisnupun kembali duduk di
kursi itu sambil meruduk dan penuh dengan pertanyaan yang tak kunjung ia
temukan jawabannya.
Senjapun kembali
keperaduannya, kini hanya lampu – lampu taman yang menerangi tempat itu, dan
tak seorangpun berada di taman itu selain Wisnu yang terpaku membisu tanpa
suara Hanya deburan ombaklah yang senantiasa menyapa melalui kebisuan, ombak
itu berdebur menyanyikan lagu kerinduan melalui kebisuan.
Namun tak lama
kemudian, Hadphone Wisnu berdering secepat mungkin ia mengambil dari saku celananya,
dan ternyata “Mama”. Langsung saja ia mengangkatnya dan mencoba menenangkan
diri, dan suara mama di seberang sana “Assallammualaikum, wis kamu ada dimana?
hari sudah gelap segeralah pulang. . Wisnupun menjawab “Wa’allaikumssalam
wr.wb, ia ma sebentar lagi Wisnu pulang. Tiba – tiba saja pembicaraan itu
terputus. Dan tak lama kemudian wisnupun beranjak pergi meninggalkan tempat itu
dengan berat hati, ia kembali ke rumah dengan mengendarai motor Vario merahnya.
Dan sesampainya
dirumah, seperti biasanya Ia mengucapkan salam. Dan langsung masuk ke dalam
kamar, menghempaskan badannya sejenak
ketempat tidur berharap rasa lelah itu hilang. Lagi lamunannya
dikacaukan dengan suara mama yang berteriak memanggilnnya.
Wisnu. . Segeralah
mandi nak, lalu makan. Mama sudah menyiapkan makanan kesukaanmu di atas meja.
Langganan:
Postingan (Atom)